Faktor Internal dan Eksternal Penyebab Perubahan Sosial

Dalam sebuah kehidupan bermasyarakat, pasti disuatu masa kita akan menemui yang namanya perubahan. Mau gak mau, suka tak suka, perubahan sosial selalu ada dan terus berjalan beriringan dengan waktu.

Terkadang perlahan sampai kita gak ngeh kalau ada yang berubah, kadang juga cepat banget sampai membuat kita kaget, “lho, kok sekarang begini ya?”. Dinamika inilah yang membuat masyarakat itu hidup, gak stagnan, dan selalu berkembang.

Perubahan sosial bisa muncul dari dalam masyarakat itu sendiri, bisa juga datang dari luar. Kalau yang dari dalam, biasanya muncul karena kebutuhan masyarakat yang makin berkembang atau karena ada hal yang dianggap gak cocok lagi dengan kondisi zaman.

Tapi kalau yang dari luar, itu datangnya dari hal-hal yang berada di luar kendali kita—mulai dari budaya negara lain yang masuk, sampai kejadian-kejadian besar kayak bencana alam atau peperangan.

Karena perubahan ini pasti akan terus terjadi, penting bagi kita, terlebih bagi teman-teman yang sekarang sedang belajar sosiologi, untuk memhami bagaimana perubahan sosial itu bisa muncul dan apa aja faktor yang memengaruhinya. Dengan paham konsep dasarnya, kamu pun bisa lebih siap menghadapi perubahan, bahkan bisa ikut mengarahkan perubahan itu ke arah yang lebih baik.

Pengertian Perubahan Sosial

Perubahan sosial intinya adalah perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat—mulai dari cara berpikir, cara berinteraksi, sampai ke pola hidup sehari-hari. Menurut William F. Ogburn, perubahan sosial biasanya diawali dari adanya perubahan pada kebudayaan material, alias benda-benda fisik atau teknologi.

Dan perubahan pada benda fisik tersebut akhirnya berpengaruh ke kebudayaan immaterial, yaitu nilai, kebiasaan, atau cara orang berperilaku.

Contoh gampangnya, sewaktu pandemi kemarin, semua kegiatan belajar berpindah ke sistem daring. Karena itu, laptop, HP, dan internet menjadi kebutuhan yang penting.

Benda-benda fisik tsb—yang disebut kebudayaan material—akhirnya mengubah cara siswa berinteraksi dengan guru, cara belajar, bahkan cara menilai tugas. Itulah yang disebut kebudayaan immaterial, perubahan barangnya berngaruh ke perubahan perilaku manusianya.

Faktor Internal yang Mempengaruhi Perubahan Sosial

Perubahan sosial datangnya tak selalu dari luar, karena banyak juga perubahan besar yang justru muncul dari dalam masyarakatnya sendiri. Faktor internal inilah yang sering kali menjadi pemicu perubahan, karena masyarakat merasa perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman atau kondisi baru yang mereka hadapi.

Secara umum, ada empat faktor internal yang bisa mempengaruhi perubahan sosial, berikut penjelasannya masing-masing..

1. Penemuan Baru

Penemuan baru muncul karena masyarakat merasa ada yang kurang, atau ada sesuatu yang tak efektif lagi untuk digunakan. Dari situlah lahir gagasan-gagasan baru yang akhirnya berkembang menjadi sebuah penemuan.

Dan sebuah penemuan tentu bisa mengubah cara hidup masyarakat.

Contohnya, kalau dulu ingin chattingan dengan teman pilihannya cuman lewat SMS kan? Sampai akhirnya muncul aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Line, atau Telegram. Dengan aplikasi-aplikasi tersebut pun jadi bisa sekalian ngirim foto, video, bahkan file.

Dan penemuan baru sendiri terbagi menjadi tiga jenis..

a. Discovery

Discovery adalah penemuan sesuatu yang sebenarnya sudah ada di alam, tapi belum pernah diketahui oleh manusia sebelumnya.

Misal ditemukannya lokasi tambang baru di Kalimantan Selatan, lokasinya sudah ada dari dulu, namun baru sekarang ditemukan. Karena itu, penemuan seperti halnya tambang ini termasuk ke kategori discovery—bukan dibuat, tapi ditemukan.

b. Invention

Sedangkan invention adalah penemuan yang benar-benar baru dan diciptakan manusia dari awal. Jadi sebelumnya gak ada sama sekali, lalu manusia membuatnya.

Contohnya adalah telepon genggam, sebelum adanya hp, manusia tak memiliki alat komunikasi yang praktis dibawa ke mana-mana. Karena benar-benar sesuatu yang baru, maka ponsel masuk ke kategori invention.

c. Innovation

Yang terakhir adalah innovation, yaitu pembaruan atau pengembangan dari penemuan yang sudah ada sebelumnya.

Contohnya smartphone, berawal dari telepon genggam sederhana, manusia mengembangkan menjadi hp pintar dengan fitur kamera, internet, GPS, dan berbagai fungsinya. Itulah yang disebut inovasi—bukan membuat dari nol, tapi meningkatkan apa yang sudah ada.

2. Konflik Sosial

Konflik sosial terjadi karena adanya gesekan antaranggota masyarakat. Biasanya konflik muncul karena perbedaan pendapat, perbedaan kepentingan, atau kecemburuan sosial.

Meskipun kesannya negatif, konflik sebenarnya bisa memicu perubahan sosial yang positif kalau arahnya dan tujuannya baik.

Seperti yang belum lama ini terjadi, demo besar-besaran Agustus yang terjadi di Indonesia karena pemerintah mengeluarkan aturan baru yang dianggap masyarakat kurang adil dan tak sesuai kebutuhan. Karena itu masyarakat melakukan demonstrasi untuk menyuarakan pendapat mereka.

Dari situ, pemerintah pun mempertimbangkan lagi untuk merevisi kebijakan agar lebih sesuai kondisi masyarakat. Jadi, konflik bisa menjadi media evaluasi untuk memperbaiki sistem yang ada.

3. Pemberontakan

Pemberontakan atau revolusi muncul ketika masyarakat sudah merasa sangat kecewa dengan sistem atau tatanan yang berlaku. Mereka merasa perlu melakukan tindakan besar untuk mengganti aturan yang dianggap tak adil maupun merugikan.

Contohnya adalah Revolusi Prancis (1789–1799), dikarenakan Raja Louis XVI yang tidak kompeten serta gaya hidup mewah Marie Antoinette yang dikenal sebagai “Madame Deficit”, semakin memperburuk keadaan rakyat yang menderita akibat pajak yang tinggi dan kelaparan.

Berangkat dari rasa tidak adil, rakyat melakukan perlawanan besar-besaran hingga akhirnya mengakhiri monarki absolut di Prancis dan mengubah tatanan masyarakat Eropa.

4. Dinamika Penduduk

Dinamika penduduk atau demografi adalah perubahan jumlah, komposisi, atau persebaran penduduk. Tiga hal yang mempengaruhi dinamika penduduk diantaranya..

  • Natalitas (kelahiran)
  • Mortalitas (kematian)
  • Migrasi (perpindahan penduduk)

Perubahan jumlah penduduk bisa mempengaruhi kondisi sosial, misal kalau angka kelahiran sangat tinggi, jumlah penduduk pun jadi padat. Akibatnya, masyarakat membutuhkan lebih banyak sekolah, tempat tinggal, lapangan kerja, hingga fasilitas kesehatan.

Begitu pun migrasi, jika banyak orang pindah ke satu daerah, daerah tsb bisa berkembang pesat, tapi disaat bersamaan bisa kewalahan kalau penduduknya membludak terlalu cepat. Semua perubahan ini akhirnya memicu penyesuaian sosial dalam berbagai aspek kehidupan.

Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Perubahan Sosial

Faktor eksternal adalah segala sesuatu yang datang dari luar masyarakat yang akhirnya berpengaruh pada kehidupan sosial. Biasanya, faktor-faktor ini tak bisa dikontrol sendiri oleh masyarakat, karena sifatnya yang tiba-tiba atau berasal dari pihak luar.

Secara umum, ada tiga faktor eksternal yang sering kali menjadi memicu perubahan sosial dalam skala besar yaitu, bencana alam, peperangan, dan pengaruh budaya lain. Berikut penjelasannya masing-masing..

1. Bencana Alam

Bencana alam datangnya tentu dari alam dan jelas terjadi di luar keinginan dan kehendak manusia. Kita gak bisa menolak banjir, gempa bumi, gunung meletus, atau tsunami.

Dank kejadian-kejadian tersebut bisa membuat perubahan besar dalam masyarakat, baik dari segi lingkungan maupun cara hidup.

Misal ketika sebuah daerah terkena banjir besar, banyak warga yang harus mengungsi, rumah yang rusak, sampai mata pencaharian pun ikut terdampak. Setelah bencana, masyarakat dipaksa untuk menyesuaikan diri—mulai dari membangun ulang rumah, mengubah sistem pertanian, sampai memperbaiki pola hidup agar lebih siap menghadapi kemungkinan bencana di masa depan.

Itu mengapa bencana alam termasuk ke dalam faktor eksternal yang sangat memengaruhi perubahan sosial. Datangnya tiba-tiba, dampaknya tentu besar, dan masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi baru setelahnya.

2. Peperangan

Peperangan adalah faktor eksternal lainnya yang bisa membawa perubahan sosial dalam skala masif. Peperangan biasanya datang dari luar kelompok masyarakat, bahkan bisa juga dari luar negara.

Dampaknya bukan hanya kehilangan tempat tinggal atau harta benda, pun juga bisa mengubah cara pandang, sistem pemerintahan, sampai pola kehidupan masyarakat.

Contohnya perang melawan penjajah, tentu berat dan penuh pengorbanan, tapi dari peperangan munculah perubahan besar yang positif, sebuah bangsa bisa merdeka dan menentukan nasibnya sendiri. Setelah merdeka, sistem sosial, ekonomi, dan politik berubah mengikuti semangat baru masyarakatnya.

Jadi meskipun peperangan cenderung membawa dampak negatif, dalam beberapa kondisi tertentu peperangan juga memicu perubahan yang justru membawa masyarakat ke arah yang lebih baik.

3. Pengaruh Budaya Lain

Globalisasi membuat batas antarnegara semakin tipis, dan budaya luar gampang sekali masuk ke kehidupan kita.

Salah satu contohnya adalah budaya Korea. Mulai dari musik K-pop, drama Korea, sampai makanan seperti kimchi atau tteokbokki, semua semakin familiar di Indonesia.

Pengaruh budaya tak hanya membuat masyarakat merubah cara berpakaian atau selera hiburannya, tapi juga bisa mengubah gaya hidup. Misal sejak drama dan film Korea booming, tiba-tiba banyak resep makanan Korea yang viral di media sosial, tren makanan ala Korea pun muncul.

Hal seperti inilah yang menunjukkan bahwa pengaruh budaya luar dapat mengubah kebiasaan, preferensi, bahkan cara masyarakat membentuk identitas sosial baru.

Penutup

Jadi, perubahan sosial bukanlah sesuatu yang munculnya secara tiba-tiba tanpa sebab. Ada banyak faktor dibaliknya, baik dari dalam masyarakat sendiri maupun dari luar.

Penemuan baru, konflik, pemberontakan, dan dinamika penduduk—semuanya berperan dalam membentuk arah perubahan. Begitu pun faktor eksternal seperti bencana alam, peperangan, dan budaya luar.

Dengan memahami faktor-faktornya, tentu kamu bisa lebih memahami kenapa masyarakat selalu berubah dan bagaimana cara menghadapi perubahan itu dengan lebih bijak.