Didalam kehidupan sosial, pasti selalu ada saja hal-hal yang membuat tatanan masyarakat goyah atau bahkan berantakan. Dari masalah kecil seperti misal gesekan antarindividu, sampai isu besar yang dampaknya bisa terasa satu kampung, satu kota, bahkan satu negara.
Dari semua kondisi yang membuat masyarakat gak nyaman atau membuat nilai-nilai sosial jadi tergeser itulah yang disebut sebagai permasalahan sosial.
Sebenarnya, hidup bersama itu kan membutuhkan banyak kompromi ya. Ada aturan tak tertulis yang harus dipahami, ada norma yang harus dihormati, dan ada nilai yang perlu dijaga supaya semuanya tetap harmonis.
Tapi ya namanya manusia, dari karakternya yang berbeda-beda, cara pikir berbeda, pengalaman hidup pun tak sama—jadinya potensi munculnya masalah sosial itu selalu ada.
Yang menarik, nih, permasalahan sosial itu bukan sekadar kejadian yang kelihatan di permukaan. Di balik sebuah masalah, biasanya ada rangkaian penyebab yang panjang.
Ada faktor budaya yang berubah, ada sejarah masyarakat yang memengaruhi cara mereka bertindak, atau bahkan ada nilai yang dulu dianggap penting tapi sekarang mulai pudar. Karena itulah para ahli sosiologi berusaha memetakan pola-pola tersebut supaya kita bisa memahami akar dari setiap masalah yang muncul.
Salah satu cara memahaminya adalah lewat teori-teori sosial, dan dari banyak teori yang ada, tiga di antaranya paling sering dipelajari. Teori-teori tersebut tak hanya menjelaskan, tapi juga mengajak teman-teman untuk memhaminya dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
Apa Itu Permasalahan Sosial?
Kurang lebih, permasalahan sosial adalah keadaan yang dianggap tidak ideal oleh masyarakat karena bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku. Kondisi yang bisa menyebabkan hubungan sosial renggang, membuat orang tidak nyaman, bahkan bisa memicu konflik yang lebih besar kalau terus dibiarkan.
Masalah sosial bisa muncul di mana saja, antara dua individu yang berbeda kepentingan, antar-kelompok yang berebut sumber daya, atau antara seseorang dengan lingkungan sosialnya yang memiliki nilai berbeda. Meskipun bentuknya berbeda tergantung daerah atau budaya, dasarnya tetaplah sama, yaitu adanya sesuatu yang tak berjalan sebagaimana mestinya dalam sistem sosial tersebut.
Teori Permasalahan Sosial
Terdapat tiga teori yang menjelaskan tentang permasalahan sosial, yaitu teori fungsionalis, teori konflik dan teori interasik simbolis. Berikut admin uraikan masing-masing teori tersebut..
1. Teori Fungsionalis

Teori ini dikembangkan oleh dua tokoh besar sosiologi, yaitu Émile Durkheim dan Talcott Parsons. Dalam pandangan mereka, masyarakat ibaratnya satu kesatuan besar yang tersusun dari berbagai bagian.
Dan di setiap bagian memiliki fungsi masing-masing, tapi semuanya harus saling mendukung agar masyarakat bisa berjalan stabil dan harmonis.
Layaknya tubuh manusia, jantung, paru-paru, otak, ginjal—berbeda-beda tugasnya, tapi kalau satu aja bermasalah, tubuh bisa terganggu. Itu juga yang terjadi dalam sebuah masyarakat.
Ada lembaga keluarga yang fungsinya mendidik, membentuk karakter, dan menanamkan nilai. Ada sekolah yang memberikan pengetahuan serta moral.
Ada agama yang memberi arahan tentang benar dan salah, ada ekonomi yang menggerakkan kesejahteraan. Ada pemerintah yang mengatur dan menjaga ketertiban, masing-masing memiliki peranan tersendiri untuk menjaga keseimbangan sosial.
Kalau salah satu lembaga tsb gagal dalam menjalankan fungsinya, otomatis munculah ketidakteraturan. Yang tadinya masyarakat berjalan rapi dan stabil bisa jadi goyah, dari ketidakteraturan itulah masalah sosial berkembang.
Berikut beberapa contoh ketika fungsi lembaga sosial tidak berjalan..
- Keluarga tak mampu mendidik anak dengan baik, akhirnya anak tumbuh tanpa panduan moral.
- Sekolah gagal menjadi tempat belajar yang aman dan mendidik.
- Sistem hukum kurang tegas, membuat pelanggaran dianggap hal biasa.
Kalau hal-hal seperti contoh diatas dibiarkan, munculah perilaku menyimpang, mulai dari kenakalan remaja, kekerasan di sekolah, penyimpangan sosial, sampai kriminalitas. Menurut teori fungsionalis, masalah sosial bisa dilihat dari dua sudut pandang.
a. Patologi Sosial
Pandangan ini mengibaratkan masalah sosial layaknya penyakit dalam tubuh masyarakat. Jadi kalau satu organ tak berfungsi, penyakit bisa menyebar ke organ lainnya, misalnya..
- Angka kriminalitas melonjak → tanda ada fungsi lembaga keluarga yang lemah
- Banyaknya tawuran pelajar → sistem pendidikan mungkin tidak optimal
- Korupsi merajalela → lembaga hukum dan pemerintahan tak berjalan sebagaimana mestinya
Dalam pandangan patologi sosial, masalah tsb muncul karena ada fungsi yang tidak bekerja. Solusinya ya tentu dengan memperbaiki lembaga yang sakit agar sistem sosial kembali sehat.
b. Disorganisasi Sosial
Sedangkan pandangan ini lebih ke perubahan sosial yang berlangsung terlalu cepat, masyarakat jadi tak sempat menyesuaikan diri. Nilai dan norma lama masih ada, tapi tak lagi dipatuhi seperti dulu.
Contohnya..
- Di era digital, orang semakin cuek dengan norma sopan santun karena merasa aman di balik layar.
- Media sosial memengaruhi gaya hidup, membuat batas-batas moral kadang kabur.
Perubahan yang cepat membuat masyarakat seperti kehilangan pegangan, sehingga masalah sosial pun lebih mudah muncul.
Melalui pendekatan ini, kita perlu memahami bahwa masalah sosial bukanlah kesalahan individu. Bukan semata-mata soal pribadi yang nakal atau orang yang salah jalan, tapi ada sistem sosial yang tidak berjalan seimbang.
Karena itu menjaga fungsi setiap lembaga sosial—mulai dari keluarga sampai negara adalah hal penting guna memastikan masyarakat tetap aman, nyaman, dan harmonis.
2. Teori Konflik

Teori konflik dicetuskan oleh Karl Marx dan Ralf Dahrendorf, memandang masyarakat tak pernah bisa selaras, karena berbagai kelompok saling bersaing mempertahankan kepentingannya masing-masing. Dan nyatanya, di kehidupan nyata kurang lebih memang begitu kan?
Setiap kelompok—bahkan tiap individu—mempunyai tujuan, nilai, dan kepentingan yang gak selalu sejalan. Ada yang ingin mempertahankan kekuasaan, ada yang mengejar kesejahteraan ekonomi, ada yang memperjuangkan akses pendidikan, ada pula yang merasa suaranya tak didengar.
Ketika kepentingan-kepentingan ini saling beradu, masalah sosial pun mulai muncul.
Menurut teori konflik, sumber utama gesekan sosial biasanya datang dari ketimpangan, yaitu ketimpangan kekuasaan, ketimpangan ekonomi, ketimpangan status sosial, sampai ketimpangan pendidikan. Selalu ada kelompok yang lebih diuntungkan, dan tentu ada yang merasa dirugikan.
Ketidakadilan inilah yang akhirnya menciptakan jurang sosial didalam masyarakat. Untuk memahami perspektif ini lebih dalam, teori konflik dibagi menjadi dua pandangan yaitu..
a. Teori Marxis
Karl Marx memandang persoalan sosial dari sudut yang sangat tajam, yaitu konflik kelas. Menurutnya, akar dari banyaknya masalah sosial ada pada pertentangan antara dua kelas besar, yaitu..
- Kaum borjuis → pemilik modal dan sumber daya
- Kaum proletar → pekerja yang menjual tenaga mereka
Didalam sistem kapitalis, yang memegang modal biasanya memiliki posisi dominan. Mereka menguasai alat produksi, membuat aturan main, dan menikmati keuntungan paling besar.
Sementara para pekerja hanya mendapatkan upah dasar dan harus mengikuti sistem yang telah ditentukan. Ketimpangan inilah yang kemudian melahirkan..
- kesenjangan ekonomi
- kemiskinan struktural
- ketidakadilan dalam pekerjaan
- eksploitasi tenaga kerja
Di zaman sekarang, bentuk konflik kelas ini bisa terlihat dari..
- upah rendah yang tidak sebanding dengan beban kerja,
- PHK massal saat perusahaan menekan biaya operasional,
- pekerja yang sulit naik jabatan karena tak memiliki “akses”
- lapangan kerja yang tidak merata
Dari teori Marxis, kamu mungkin tidak sekedar diajarkan persoalan ekonomi, tapi juga bagaimana struktur masyarakat menciptakan kelompok yang terus berada di bawah dan yang terus berada di atas.
b. Teori Non-Marxis
Ralf Dahrendorf dan tokoh lain menekankan bahwa konflik sosial bisa muncul dari banyak sumber, bukan hanya dari masalah ekonomi saja.
Konflik bisa lahir dari adanya perbedaan..
- nilai hidup
- keyakinan agama
- budaya atau adat
- suku atau etnis
- bahkan gender
Misalnya..
- kelompok minoritas yang diperlakukan tidak adil
- perempuan yang tidak diberi kesempatan memimpin
- perbedaan budaya yang menimbulkan kesalahpahaman
- stereotip terhadap etnis tertentu yang diwariskan turun-temurun
Contoh nyata di Indonesia adalah ketimpangan akses pendidikan antara kota dan desa. Sekolah unggulan dan fasilitas lengkap kebanyakan adanya ya di kota, sedangkan anak-anak di desa sering kali harus puas dengan sarana seadanya.
Kondisi seperti ini membuat sebagian masyarakat merasa tertinggal, hingga memunculkan rasa ketidakadilan yang berpotensi menjadi konflik sosial. Jadi ya teori non-Marxis mengajarkan bahwa datangnya konflik bisa dari mana saja, selama ada ketidakseimbangan kekuasaan dan peluang, selama itu pula potensi konflik akan selalu ada.
3. Teori Interaksi Simbolis

Lalu ada teori interaksi simbolis, yang mengajak kita untuk melihat hal-hal kecil dalam keseharian. Teori ini diperkenalkan oleh George Herbert Mead dan Herbert Blumer.
Teori ini berangkat dari pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang menafsirkan. Jadi manusia tak hanya melakukan aksi, tapi juga memberi makna pada setiap tindakan, simbol, dan gesture yang kita terima dari orang lain.
Misalnya..
- Senyuman bisa dianggap ramah, tapi bisa juga dilihat sebagai sindiran.
- Diam bisa dianggap sopan, tapi bisa juga dibaca sebagai penolakan.
- Cara bicara seseorang bisa ditangkap sebagai halus atau sombong, tergantung hubungan yang terjalin.
Jadi, perilaku sosial sesungguhnya lahir dari makna yang kita bentuk bersama melalui interaksi. Dan dari sinilah munculnya banyak masalah sosial, dari salah tafsir, dari prasangka, dari cara kita memaknai tindakan orang lain.
Dalam teori interaksi simbolis, ada dua pendekatan yang membahas pembentukan masalah sosial, yaitu teori pelabelan dan teori konstruksionisme sosial.
a. Teori Pelabelan (Labelling Theory)
Teori ini menjelaskan bahwa suatu perilaku dianggap menyimpang bukan semata-mata karena tindakan itu sendiri, melainkan karena label negatif yang diberikan masyarakat. Begitu seseorang di labeli, label tsb tentu melekat pada orangnya hingga menentukan bagaimana ia diperlakukan, bahkan bagaimana ia memandang dirinya sendiri.
Contohnya..
- Remaja yang pernah tawuran akan dicap “nakal”.
- Mantan narapidana dicap “berbahaya”.
- Anak yang nilainya rendah dicap “bodoh”.
Label-label tersebut bisa membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berubah. Parahnya lagi, dikarenakan adanya perlakukan negatif, seseorang bisa jadi merasa bahwa label tersebut benar adanya dan akhirnya berperilaku sesuai label tersebut.
b. Teori Konstruksionisme Sosial
Sementara konstruksionisme sosial melihat bahwa masalah sosial lahir dari kesepakatan bersama dalam masyarakat. Artinya, suatu tindakan bisa dianggap wajar atau menyimpang tergantung bagaimana masyarakat menilainya.
Contohnya..
- Bullying yang dianggap hanya “candaan anak sekolah”.
- Korupsi kecil-kecilan yang dianggap “lumrah”.
- Pemberian uang pelicin yang dianggap “tradisi birokrasi”.
Ketika suatu perilaku menyimpang terus-menerus dilakukan dan diterima sebagai kewajaran, lama-kelamaan bisa menjadi bagian dari budaya sosial. Padahal dampaknya tentu bisa destruktif bagi masyarakat.
Jadi, dari kedua pandangan diatas menunjukkan bahwa masalah sosial tak hanya muncul dari faktor besar seperti ekonomi atau kekuasaan, tetapi juga dari interaksi sehari-hari, cara kita berbicara, memberi makna, dan memperlakukan satu sama lain.
Penutup
Dengan memahami berbagai teori dari permasalahan sosial, tentu teman-teman bisa jadi lebih memahami bahwa permasalahan sosial ada banyak lapisannya. Entah karena sistemnya yang tidak berjalan seimbang, adanya ketimpangan dan perebutan kepentingan, maupun yang tumbuh dari makna dan interaksi kita sehari-hari.
Semakin kita memahami cara kerja masyarakat, semakin mudah pula bagi kita melihat akar persoalan dan mencari solusi yang lebih manusiawi dan inklusif.